Dimalam yang begitu sesak ini aku
merasakan hal yang menyesakkan hatiku. Hal tersebut muncul karena bayangan
seseorang yang tidak pernah henti-hentinya mendiami pikiranku. Tidak tahu lagi
aku akan cara yang ampuh untuk mengusirnya jauh-jauh. Sesak itu bertambah parah
ketika liar pikiranku berlari membentuk formasi ‘gila’ yang menggambarkan kisah
harapan masa depan bersamamu.
Apa maunya hati ini tidak jelas
lagi. Seolah-olah malam ini aku ingin kau ada dihadapanku berbicara padaku
dengan kelembutan dan keakraban. Meski ku tahu, jarak kita tidaklah pernah
dekat. Wilayahmu berada pada waktu GMT+8 sudah jelas menjadi jarak yang tidak
mungkin ku tempuh dengan teriakan suara rinduku memanggil hatimu. Walau ku
panggil kau dengan lantang, toh kau tidak akan pernah kan merasakan gemanya.
Kau tak pernah tahu jika aku ada. Jika aku berusaha menguntit kehidupan studimu
yang begitu tinggi disana.
Memang aku wanita yang tidak
pernah akan waras. Begitu menggilaimu tanpa pernah melihat rupa audiovisualmu
sedetik pun. Hanya di layar maya ku dapat raba rupa menawanmu yang tidak kan
buat terkedip mata ini mengamatimu. Berselancar dengan apik bak detektif
gadungan tanpa lelah bertindak KEPO akan hidupmu.
Aku hanya berharap pada jalan
takdir dapat menuntun kita tuk bertemu. Walau mungkin hal ini hanya memiliki
persentasi mungkin 1%. Cukup 1% itu yang membuat ku yakin untuk kuat berdiri
disini menantimu. Menanti selesainya studimu hingga kau pulang ke tanah
kelahiranmu, bumi Raflesia, atau mungkin aku yang berusaha keras agar dapat ku
pijak negeri tempatmu menuntut ilmu dan mencari jejak kehadiranmu di depan
mataku.
Aku selalu berharap itu, walau
mungkin cicak di dinding sedang menertawakan keGILAan di malam yang sesak ini.
Astage @_@
BalasHapus