Jumat, 06 Februari 2015

Putra Idaman Dalam Maya

Dimalam yang begitu sesak ini aku merasakan hal yang menyesakkan hatiku. Hal tersebut muncul karena bayangan seseorang yang tidak pernah henti-hentinya mendiami pikiranku. Tidak tahu lagi aku akan cara yang ampuh untuk mengusirnya jauh-jauh. Sesak itu bertambah parah ketika liar pikiranku berlari membentuk formasi ‘gila’ yang menggambarkan kisah harapan masa depan bersamamu.

Apa maunya hati ini tidak jelas lagi. Seolah-olah malam ini aku ingin kau ada dihadapanku berbicara padaku dengan kelembutan dan keakraban. Meski ku tahu, jarak kita tidaklah pernah dekat. Wilayahmu berada pada waktu GMT+8 sudah jelas menjadi jarak yang tidak mungkin ku tempuh dengan teriakan suara rinduku memanggil hatimu. Walau ku panggil kau dengan lantang, toh kau tidak akan pernah kan merasakan gemanya. Kau tak pernah tahu jika aku ada. Jika aku berusaha menguntit kehidupan studimu yang begitu tinggi disana.

Memang aku wanita yang tidak pernah akan waras. Begitu menggilaimu tanpa pernah melihat rupa audiovisualmu sedetik pun. Hanya di layar maya ku dapat raba rupa menawanmu yang tidak kan buat terkedip mata ini mengamatimu. Berselancar dengan apik bak detektif gadungan tanpa lelah bertindak KEPO akan hidupmu.

Aku hanya berharap pada jalan takdir dapat menuntun kita tuk bertemu. Walau mungkin hal ini hanya memiliki persentasi mungkin 1%. Cukup 1% itu yang membuat ku yakin untuk kuat berdiri disini menantimu. Menanti selesainya studimu hingga kau pulang ke tanah kelahiranmu, bumi Raflesia, atau mungkin aku yang berusaha keras agar dapat ku pijak negeri tempatmu menuntut ilmu dan mencari jejak kehadiranmu di depan mataku.


Aku selalu berharap itu, walau mungkin cicak di dinding sedang menertawakan keGILAan di malam yang sesak ini.

1 komentar: